Tuesday, December 27, 2011

terima kasih perempuan kedua

Share
Hai.
Selamat malam wahai perempuan kedua.
Kau membuatku kembali jatuh cinta.
Tapi aku ragu.
Seperti biasa.
Takut menghampiriku.
Cinta.
Kata yang berat bagiku.
Terlebih kerana dia sering tidak berpihak padaku.
Dan kali ini dia kembali datang.
Serius.
Atau hanya menggoda?
Jika kali ini dia kembali menggoda,
aku akan benar benar menghajarnya.
Dia sudah membuatku sering terluka.
Juga belajar tertawa.
Ya.
Tertawa.
Menertawakan cerita yang dibuat sang Maha Kuasa.
Menertawakan diriku sendiri, yang masih begitu kukuh memerankannya.
Ya.
Walau terluka.
Lagi.
Dan kali ini aku berada di babak kedua.
Episod kedua.
Yang ditentukan oleh sang Maha Kuasa,
bekerjasama dengan hal paling jahil di dunia.
Cinta.

Sekarang aku sedang beradu.
Bersamamu.
Wahai perempuan kedua.
Bagaimanakah cerita kita?
Apakah berakhir sama?
Atau berbeda?
Entahlah.
Aku ingin bertanya.
Mengapa Tuhan menciptakan rasa takut akan cinta.
Bukankah bagusnya dia hanya menciptakan keberanian saja?
Jadi aku tak perlu takut beradu denganmu.
Oh iya,
aku tahu!
Apakah baiknya aku amnesia saja?
Jadi kau akan jadi cinta pertama.
Bagaimana? Rasanya itu pilihan yang bagus.
Tapi maukah kau membantuku?
Tolong juga bantu hapus rasa takutku.
Bisakah?
Perempuan kedua?
Dimanakah kau?


Jangan katakan kau sudah pergi begitu saja.
Apa benar cinta senakal ini sampai mengerjaiku dengan cinta yang beberapa detik saja?
Baiklah.
Mungkin memang benar tujuan Tuhan membuat kata menyerah.
Agar aku bisa memakainya.
Lagi.
Terimakasih perempuan kedua.
Untuk cinta yang sementara


p/s : kau tau..kau yang aku maksudkan-perempuan!

1 comment:

  1. mungkin hanya perkataan SAYANG yg layak bukan CINTA... sepertimana CINTA pada yg hakiki... terima kasih juga pada perempuan yg aku rasakan BANGANG... maaf kerna kata-kata NISTA yg aku lemparkan... tapi itu yg tergambarkan di kotak minda ku ini... aku tak pernah mengungkit kisah di episod duka yg lepas... tapi mungkin dia tidak menontonnya sama... betapa payahnya pelakon itu melakonkan watak yg berat... watak protagonis sentiasa menjadi RENCAH bagi watak antagonis... dia tidak kan mungkin pernah mengerti kerna perempuan itu hadir tika cahaya mentari menyinar jua die setiap ceruk semesta... bukan tika rembulan yg hilang cchayanya tika gerhana menyinggah di genap dimensi ciptaanNYA...

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails